Teori Darwin menemui ajal

30 06 2007

 

harunyahyaoktar2.jpgC.Darwin

Menyusul pengaruh biasa buku Harun Yahya “Atlas Penciptaan”, Dewan Eropa mulai meradang

. Tanda-tanda teori Darwin segera menemui ajal?

 

Hidayatullah.com–Guncangan ideologis dahsyat di Prancis terjadi menyusul pengiriman ribuan buku ”Atlas Penciptaan”, yang mengungkap fakta penciptaan dan kekeliruan ilmiah Darwinisme. Setelah itu, wartawan Prancis dan sejumlah negara Eropa lainnya pun datang ke Istanbul, Turki, untuk mewawancarai penulisnya, Adnan Oktar, dengan nama pena Harun Yahya.

Tak ketinggalan, situs internet ilmiah berbahasa Prancis Science Actualités, melakukan wawancara pula dengan Patrick Tort dari Charles Darwin International Institute (Lembaga Charles Darwin Internasional). Jajak pendapat seputar teori Darwin pun diadakan oleh situs ilmiah itu.

Hasil jajak pendapat tersebut sungguh mengejutkan. Dari 5 pertanyaan yang diajukan, 92% peserta yakin bahwa “Manusia bukanlah hasil sebuah evolusi“. Mereka yang percaya bahwa “manusia dan kera memiliki nenek moyang bersama“ berjumlah 5%. Hanya 1% saja yang setuju bahwa “manusia berevolusi dari kera”.

Mengadu ke Dewan Eropa

Jika Darwinisme dan teori evolusi tak lebih dari sekedar teori ilmiah belaka, maka fenomena di atas bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Perbedaan pendapat dan muncul-tenggelamnya sebuah teori ilmiah seiring dengan kemajuan zaman dan penemuan fakta ilmiah baru adalah biasa di dunia ilmiah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan ditutup-tutupi. Bahkan sepatutnya penemuan ilmiah baru disambut gembira oleh semua masyarakat, meski sama sekali bertolak belakang dengan teori sebelumnya.

Namun jika teori evolusi dan Darwinisme memiliki sisi ideologis dan kaitan erat dengan hal mendasar yang berpengaruh besar pada kehidupan manusia, pada tatanan ideologi, budaya, politik dan sosial suatu negara atau bahkan dunia, maka akan lain ceritanya. Dan inilah fenomena yang sedang terjadi di dunia sekarang, khususnya Amerika Serikat dan Eropa.

Menyusul pengaruh luar biasa buku karya Harun Yahya “Atlas Penciptaan”, serta karya para ilmuwan dan intelektual lain, terhadap Darwinisme dan fakta penciptaan, Dewan Eropa pun berkumpul membahasnya. Di lembaga tinggi beranggotakan 47 negara Eropa itu, Komite Kebudayaan, Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan mengajukan draf rekomendasi yang disetujui pada 31 Mei 2007 melalui pemungutan suara, satu suara menolak dan satu orang tidak memilih.

Kepanikan

Dalam laporan berjudul, “The dangers of creationism in education” (Bahaya paham penciptaan dalam pendidikan) yang berisi sembilan belas butir draf resolusi dan 105 butir memorandum, Guy Lengagne si penyusun yang juga dari kelompok Sosialis, Prancis, menulis dengan ungkapan yang mencerminkan ketakutan, kepanikan dan kekhawatiran mendalam atas semakin terpuruknya Darwinisme.

Ada sejumlah hal menarik yang dapat diketahui dengan membaca seksama laporan tersebut, yang digaya-bahasakan layaknya Eropa sedang mengalami serbuan perang dahsyat.

Pertama, kebebasan berbicara dan berpendapat yang diagung-agungkan negara-negara Eropa terbukti dikhianati sendiri oleh para Darwinis. Dalam kasus ini, kebijakan bangsa primitif dan diktatorisme ternyata diberlakukan dengan cara pelarangan terhadap buku Atlas Penciptaan.

Kedua, karya ilmiah seperti Atlas Penciptaan semestinya ditanggapi dan disanggah pula pada tataran yang setara, melalui sarana ilmiah dan secara intelektual oleh mereka yang mengaku ilmuwan, pakar, intelektual dunia di Eropa. Namun, menariknya justru luapan emosi, kemarahan dan ketakutanlah yang mendominasi.

Ketiga, lebih jauh lagi, lembaga-lembaga ilmiah bergengsi Eropa beserta para ilmuwannya yang tersohor rupanya tidak cukup mampu membendung tanda-tanda runtuhnya Darwinisme. Buktinya, diperlukan seorang dari Kelompok Sosialis bernama Guy Lengagne, dan bukan ilmuwan, untuk mengadukan kasus ini ke lembaga yang lebih besar dari sekedar lembaga ilmiah atau sebuah negara: Dewan Eropa!

Keempat, inilah isyarat jelas bahwa Darwinisme dan teori evolusi adalah rapuh secara ilmiah. Kemampuannya bertahan selama ini adalah karena ditopang oleh diktatorisme yang membungkam dan menyembunyikan fakta ilmiah yang menyanggahnya.

Kelima, ketika fakta ilmiah yang selama ini disembunyikan tersebut disingkap di mata masyarakat, serta merta keyakinan masyarakat yang ikut menegakkan bangunan Darwinisme itu ikut memudar. Tak heran jika para pendukungnya, para Darwinis, panik. [cr/www.hidayatullah.com]





13 04 2007





Mukjizat Al-Qur’an

13 04 2007

At-Tashwiir al-Fanniy, Bukti Mukjizat Al-Qur’an

At-tashwir al-Fanni fi Al-Qur’an al-Karim penggambaran keindahan Al-Qur’an serta menjelaskan metode dan pautan-pautannya. Buku yang layak dibaca bagi yang rindu mukjizat Nya

Oleh: Rahmat Hidayat

Ada satu ciri khas yang biasa ditemui pada setiap buku Sayyid Quthb, yakni adanya persembahan tulisan kepada seseorang atau kelompok yang memberikan kesan dan pesan terhadap pribadinya. Tidak saja sekedar pesan dan kesan, tetapi mampu menampilkan sentuhan yang istimewa baginya. Sehingga, menjadikan buku ini memiliki nilai tambah dalam bobot tulisannya.

Buku ini sejatinya dipersembahkan Sayyid Quthb kepada Ibunda tercintanya. Wanita yang telah mengasuh dan mengirimnya ke sekolah dasar tempat para huffazd (penghapal) Al-Qur’an, sehingga hajat ibunya untuk menjadikannya seorang hafidz Al-Qur’an benar-benar terwujud. Sayyid Quthb berkata, “Sungguh kini engkau telah pergi meninggalkan aku, wahai Ibunda.

Gambaran terakhir yang ada dalam ingatanku mengenaimu, adalah ketika engkau sedang duduk di rumah di depan radio. Saat itu engkau sedang asyik mendengarkan bacaan Al-Qur’an yang sangat indah. Tampak dari wajahmu yang anggun bahwasannya engkau bisa memahami arah dan rahasia ayat-ayat tersebut, dengan kebesaran hatimu dan ketajaman perasaanmu.

Maka untukmu wahai Ibunda, kupersembahkan buku ini sebagai buah dari bimbingamu yang panjang pada anakmu yang masih kecil dan pada pemudamu yang sudah besar kini. Andaipun keindahaan bacaan itu telah luput dariku, semoga tidaklah luput dariku keindahan takwilnya. Semoga Allah senantiasa menjaga engkau dan aku di sisi-Nya.” (hal. 5).

Kemudian, Sayyid Quthb mengawali tulisannya dengan menceritakan catatan “perjalanan” pribadinya tentang Al-Qur’an di masa kecilnya. Di saat pikirannya masih belum bisa menggapai makna-makna Al-Qur’an, namun saat itu ia telah mendapatkan sesuatu dalam dirinya. Hal itu terlukis dalam bab , ” Laqad Wajadtu Al-Qur’an (Sungguh, telah kutemukan Al-Qur’an!)”.

Sayyid Quthb bercerita, ” Ketika itu imajinasiku sebagai anak kecil senantiasa membayangkan gambaran-gambaran yang ada dalam ungkapan-ungkapan Al-Qur’an. Meskipun gambaran-gambaran itu sangat lugu, namun jiwaku senantiasa merindukannya dan perasaanku bisa menikmatinya. Yang demikian itu aku alami dalam waktu yang cukup lama. Aku merasa senang sekali dan gandrung.”

Di antara gambaran-gambaran lugu yang sempat terbayang dalam anganku kala itu, tandas Sayyid Quthb, ialah yang muncul saat aku membaca ayat, “Dan diantara manusia ada yang menyembah kepada Allah diatas satu sisi saja. Apabila kebaikan menimpa padanya maka ia pun menjadi tenang dengannya. Namun jika cobaan menimpanya maka ia ˜membalikkan wajahnya. Dia itu orang yang akan merugi di dunia dan juga di akhirat”. (Q.S. Al-Hajj : 11).

Tidak mungkin ada orang yang akan bisa tertawa andaikata ia membayangkan seperti bayanganku ini: Aku membayangkan seorang yang sedang berdiri di tepian tempat yang tinggi: dudukan yang tinggi “ yang biasa aku lihat di kampung atau puncak dari sebuah bukit yang sempit yang biasa aku lihat disamping lembah dan dia sedang melakukan shalat.

Akan tetapi, dia tidak mendapatkan tempat yang cukup. Karenanya dia bergoyang-goyang setiap kali melakukan gerakan shalat dan hampir-hampir dia terjatuh. Saya, kata Sayyid Quthb, saat itu bisa melihatnya dan bahkan aku tirukan gerakan-gerakan shalatnya dengan rasa riang tetapi dengan penuh rasa heran! (hal. 7)

Selanjutnya, Sayyid Quthb tak luput menjelaskan kepada pembaca, bahwa tulisannya ini merupakan “perpanjangan tangan” dari artikelnya yang dimuat di majalah “al-Muqhtathif” pada tahun 1939. At-tashwir al-Fanni fi Al-Qur’an al-Karim tetap menjadi judul karangannya. Karena judul inilah yang menginspirasikannya untuk memperdalam dan mengumpulkan  menggambaran-penggambaran arteristik Al-Qur’an serta menjelaskan metode penggambarannya dan pautan-pautan artistiknya.

Sayyid Quthb dalam bukunya ini membahas tentang Al-Qur’an, bagaimana memahami nya, penggambaran arteristiknya, imajinasi inderawi Al-Quran tehadap intelektual dan kejiawaan, tujuan kisah di dalam Al-Qur’an dan model manusia.

Dalam bab At-Tashwiir al-Fanniy, Sayyid Quthb menandaskan bahwa penggambaran (at-tashwiir) merupakan instrumen utama dalam bahasa gaya Al-Qur’an.

Karena ia diungkapkan dengan gambar inderawi imajenatif tentang makna intelektual dan kondisi jiwa; tentang peristiwa yang terindera dan fenomena yang terlihat; tentang model manusia dan karakternya.

Penggambaran itu juga menampilkan sebuah gambaran yang membentuk sebuah kehidupan yang aktif atau gerakan-gerakan yang aktual. Makna intelektual dinyatakan dalam bentuk atau gerakan. Kondisi jiwa dinyatakan dalam fenomena atau secara nyata.

Model manusia dinyatakan dalam sesosok manusia yang benar-benar hidup. Karakter manusia dinyatakan secara “menjelma” . Berbagai peristiwa dan fenomena, cerita dan pemandangan, menampilkan sosok-sosok yang benar-benar hadir; disana ada kehidupan, disana ada gerakan-gerakan.

Apabila disana terdapat dialog maka ia berlangsung dengan melibatkan segenap unsur imajinasi. Implikasinya, sewaktu seseorang membaca atau mendengarkan ayat-ayatnya, maka ia menjadi  lupa bahwa ayat-ayat tersebut adalah kalimat-kalimat yang dibaca atau perumpamaan-perumpamaan yang disuguhkan. Sebaliknya, ia merasakan gerakan-gerakan, pemandangan, atau peristiwa yang benar-benar nyata. (hal. 36)

Dengan mengenal dan memahami penggambaran-penggambaran yang terdapat di dalam Al-Qur’an , akan menyadarkan kita bahwa kemukjizatan Al-Qur’an benar-benar nyata hingga saat ini. Sayyid Quthb berkata, “Apabila kita menyadari bahwa semua itu ternyata hanyalah huruf-huruf dan lafazh-lafazh yang diam, yang tidak berwarna-warni dan tidak pula bersosok, maka kita pun sadar bahwa itu semua merupakan sebagian dari rahasia kemukjizatan dalam gaya pengungkapan Al-Qur’an .

Penggambaran dalam Al-Qur’an meliputi penggambaran dengan warna, gerakan, realitas dan aktualitas, yang kebanyakan muncul bersama-sama dengan deskripsi, dialog, denting kata-kata, lantunan ungkapan, dan irama susunan kalimat, yang semuanya memunculkan gambaran-gambaran yang dapat diindera dengan mata dan telinga, rasa dan imajinasi, pikiran dan perasaan.  Dalam Al-Qur’an ada kehidupan, bukan kisah tentang kehidupan!” (hal. 37)

Buku ini bukan saja menarik untuk dibaca, tetapi juga penting untuk dicermati dan dijadikan rujukan bagi orang-orang yang merasa sulit dan jauh dari menemukan “rasa” kemukjizatan Al-Qur’an.

Buku ini benar-benar akan membimbing mereka untuk tidak salah dalam memilih “warna” kehidupan dan akhirnya benar-benar menemukan Al-Qur’an kembali.

Penulis adalah mahasiswa universitas al-Azhar Kairo, Fakultas Syariah Islamiyah, tingkat III dan Koordinator Kajian As-Safiir HMM-Kairo.

===========

Judul buku:  At-tashwir al-Fanni fi Al-Qur’an al-Karim (Penggambaran Arteristik al-Qur’an)
Penyunting : Sayyid Quthb
Penerbit : Dar as-Syuruq
Tahun terbit : 2004, cet. Ke-XVII
Tebal buku : 258 halaman

 

Cover








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.